Merauke – Peneliti Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Annas Fitrah Akbar, menegaskan bahwa pengembangan potensi kebudayaan di Kampung Wanam memerlukan perencanaan yang matang dan bertahap. Hal ini penting agar pembangunan fasilitas tidak sekadar menjadi proyek fisik, melainkan benar-benar memberikan dampak positif dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Pernyataan tersebut disampaikan Annas dalam kegiatan Dialog Masyarakat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Ia mengapresiasi berbagai inisiatif warga—mulai dari pembangunan pusat kebudayaan, dokumentasi adat, sentra kerajinan, hingga gagasan pariwisata—yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Prioritas Awal: Penguatan Dokumentasi dan Pasar
Menurut Annas, gagasan yang besar harus diurai ke dalam rencana aksi yang terstruktur dengan skala prioritas yang jelas agar masyarakat tidak kewalahan dalam implementasinya.
“Niat yang luar biasa ini jangan langsung membuat kita pusing sendiri. Kita harus susun perencanaannya, mana yang harus didahulukan,” ujar Annas.
Sebagai langkah awal, ia menyarankan agar fokus utama diarahkan pada penguatan dokumentasi kebudayaan. Sejarah, nilai-nilai luhur, pengetahuan, serta praktik adat perlu dihimpun dan disusun secara sistematis sebagai fondasi sebelum melangkah ke skala yang lebih luas.
Selain itu, Annas mengingatkan pentingnya kesiapan pasar dalam pengembangan ekonomi berbasis budaya. Pembangunan infrastruktur produksi, seperti tempat kerajinan, harus dibarengi dengan strategi pemasaran yang jelas agar produk masyarakat memiliki daya serap di pasar.
“Jangan sampai kita mendirikan bangunan dan memproduksi barang, tetapi tidak ada yang membeli. Semua ini harus direncanakan secara matang,” tegasnya.
Tahapan Pengembangan dan Pelibatan Masyarakat
MPSI merekomendasikan pembagian program ke dalam dua fase utama:
• Tahap Jangka Pendek: Fokus pada dokumentasi adat, pemetaan potensi budaya, identifikasi produk unggulan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penentuan pola pengelolaan.
• Tahap Jangka Menengah dan Panjang: Berorientasi pada pembangunan ruang produksi, perluasan pemasaran digital, promosi, hingga perintisan kegiatan berskala lebih besar seperti festival budaya tahunan.
Terkait wacana penyelenggaraan festival budaya di masa mendatang, Annas menekankan bahwa bentuk dan substansi kegiatan harus dirumuskan langsung oleh masyarakat adat. Hal ini krusial untuk memastikan nilai-nilai sakral tradisi tetap terjaga dan tidak tereduksi.
Masyarakat Adat sebagai Pemegang Kendali Utama
Dalam pendampingan ini, MPSI berkomitmen untuk membantu menerjemahkan aspirasi warga menjadi dokumen rencana kerja yang terstruktur. Kendati demikian, Annas menegaskan bahwa masyarakat adat harus tetap bertindak sebagai penentu arah, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama.
Dengan konsistensi, tahapan yang terukur, dan partisipasi aktif dari tokoh adat, pemuda, hingga kaum perempuan (mama-mama), Wanam dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat edukasi dan pelestarian budaya terkemuka di Papua Selatan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Wanam semakin dikenal luas, tetapi memastikan masyarakat adat tetap menjadi pemilik, pengelola, dan penerima manfaat utama dari setiap perubahan yang berlangsung di wilayahnya,” pungkas Annas.
