Jakarta – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan pendidikan inklusif berbasis sekolah berpola asrama. Langkah strategis ini mendapat sambutan positif dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) RI.
Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi antara jajaran Pemkab Jayawijaya dengan Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Didik Suhardi, Ph.D., di Jakarta, Jumat (22/8/2026). Pertemuan ini diinisiasi oleh Kepala SMAN Yalengga, Srie Agusty Sundari, atas penugasan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayawijaya, dengan menyerahkan proposal pembangunan SMAN Yalengga dan SMAN Porome.
Urgensi Sekolah Berpola Asrama di Jayawijaya
Dalam audiensi tersebut, terungkap bahwa SMAN Yalengga yang telah berdiri selama enam tahun belum memiliki gedung sekolah sendiri dan masih menumpang di fasilitas SMPN Yalengga. Di tengah keterbatasan tersebut, jumlah peserta didik terus menunjukkan peningkatan, di mana pada tahun pelajaran 2026/2027 tercatat sebanyak 247 siswa.
Kepala SMAN Yalengga, Srie Agusty Sundari, menjelaskan bahwa konsep sekolah berpola asrama sangat krusial untuk mengatasi tantangan geografis serta jarak tempat tinggal siswa yang jauh. Melalui sistem asrama, siswa tidak hanya mendapatkan ruang belajar yang layak, tetapi juga lingkungan tempat tinggal yang aman serta pembinaan karakter, kedisiplinan, dan keterampilan hidup.
Hal senada disampaikan oleh Kepala SMAN Porome, Maret Tabuni. Dengan jumlah peserta didik mencapai 203 orang, kehadiran fasilitas sekolah dan asrama yang memadai dinilai menjadi solusi efektif untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menekan risiko putus sekolah di wilayah Porome dan sekitarnya.
“Sekolah bukan hanya membutuhkan gedung, tetapi juga lingkungan pendidikan yang mampu memastikan anak-anak dapat belajar dengan baik, tinggal dengan aman, dan mendapatkan pembinaan secara berkelanjutan,” ujar Maret Tabuni.
Respon dan Persyaratan dari Kemdikdasmen
Staf Ahli Menteri Kemdikdasmen, Didik Suhardi, Ph.D., menyambut baik inisiatif dan komitmen Pemkab Jayawijaya. Proposal pembangunan SMAN Yalengga dan SMAN Porome telah diterima untuk dikaji dan dimasukkan ke dalam proses perencanaan program pembangunan tahun 2027.
Kendati demikian, Kemdikdasmen mengingatkan pentingnya aspek administratif, khususnya kepastian dan legalitas status lahan. Pemerintah daerah bersama pihak sekolah diwajibkan untuk melengkapi dokumen pendukung, seperti surat pelepasan tanah sah dari pemilik hak ulayat dan/atau sertifikat tanah, guna memastikan kelancaran dan kepastian hukum pembangunan di masa depan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayawijaya menegaskan bahwa sistem pendidikan berpola asrama sangat selaras dengan karakteristik sosial-budaya masyarakat setempat. Dengan fasilitas yang memadai, para orang tua diharapkan semakin percaya untuk menyerahkan pendidikan anak-anak mereka kepada pihak sekolah, guna melahirkan generasi muda Papua yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing.
Selain membahas infrastruktur sekolah, rangkaian kunjungan ini juga diisi dengan koordinasi terkait tata kelola Program Indonesia Pintar (PIP) guna memastikan ketepatan sasaran dan validitas data penerima bantuan pendidikan bagi para siswa.
Dukungan penuh juga datang dari tokoh masyarakat sekaligus intelektual Distrik Yalengga, Natalis S. Mumpu, S.Pd., S.Sos. Ia mengapresiasi dedikasi para guru di tengah keterbatasan fasilitas, serta menilai bahwa pembangunan sekolah dan asrama merupakan investasi jangka panjang yang sangat vital bagi masa depan generasi muda Jayawijaya.
