Oleh : Andis Fathan Syahputra
Ketua BEM KM UNISSULA 2026
Peradaban modern telah membawa manusia pada kemampuan luar biasa dalam menguasai dunia. Kota-kota menjulang tinggi, teknologi berkembang tanpa henti, dan ilmu pengetahuan bergerak melampaui batas-batas yang dahulu dianggap mustahil. Namun, di tengah kemajuan itu, manusia justru menghadapi sebuah paradoks besar: semakin mampu memahami dunia secara teknis, semakin jauh pula ia memahami makna keberadaannya sendiri. Alam diperlakukan sekadar objek eksploitasi, ruang direduksi menjadi komoditas ekonomi, dan manusia perlahan kehilangan hubungan spiritualnya dengan semesta. Di sinilah persoalan mendasar peradaban modern bermula, yakni krisis cara pandang terhadap alam dan kehidupan.
Dalam tradisi filsafat Islam, alam tidak pernah dipahami sebagai benda mati yang berdiri sendiri. Hasbullah Bakry dalam Sistematik Filsafat menjelaskan bahwa filsafat merupakan usaha manusia menyelidiki hakikat ketuhanan, manusia, dan alam semesta secara mendalam agar manusia tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami bagaimana seharusnya ia hidup. Dengan demikian, ilmu bukan sekadar alat untuk menguasai dunia, melainkan jalan untuk menemukan makna kehidupan.
Karena itu, alam dalam perspektif Islam bukan hanya realitas fisik yang dapat diukur melalui angka dan eksperimen. Alam adalah tanda. Ia berbicara melalui keteraturannya, melalui hukum-hukumnya, serta melalui harmoni yang menyatukan seluruh kehidupan. Prof. Mulyadhi Kartanegara menegaskan bahwa fenomena alam bukanlah realitas independen, melainkan ayat-ayat Tuhan yang menunjukkan keberadaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan-Nya.
Pandangan ini menjadikan aktivitas membaca alam bukan sekadar kegiatan ilmiah, tetapi juga aktivitas spiritual. Ketika manusia mempelajari langit, lautan, gunung, hingga tubuhnya sendiri, secara tidak langsung ia sedang membaca jejak-jejak Ilahi yang tersebar di seluruh semesta. Muhammad Iqbal bahkan menyebut alam sebagai medan kreatif Tuhan, yakni ruang tempat manusia dapat menyaksikan bagaimana kehendak Tuhan bekerja melalui keteraturan kosmik.
Karena itu, dalam tradisi Islam, alam tidak pernah dipisahkan dari dimensi sakral. Jagat raya bukanlah chaos yang bergerak tanpa arah, melainkan kosmos yang harmonis. Prof. Nurcholish Madjid menjelaskan bahwa istilah kosmos dalam tradisi Yunani berarti keteraturan dan keharmonisan. Sementara itu, dalam bahasa Arab, kata ‘alam memiliki akar kata yang sama dengan ‘ilm (pengetahuan) dan ‘alamah (tanda). Alam disebut demikian karena keberadaannya merupakan tanda yang mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta.
Dari sini tampak bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar hubungan antara subjek dan objek, melainkan hubungan eksistensial yang lebih mendalam. Manusia hidup di dalam alam, berasal dari unsur-unsurnya, dan bergantung pada keteraturannya. Kerusakan alam pada akhirnya bukan hanya kerusakan ekologis, tetapi juga kerusakan dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.
Ikhwan al-Shafa menggambarkan relasi ini secara filosofis dengan menyebut alam sebagai al-Insan al-Kabir (Manusia Besar), sementara manusia disebut al-‘Alam al-Shaghir (Alam Kecil). Analogi ini menunjukkan bahwa manusia merupakan miniatur kosmos. Apa yang ada di alam tercermin dalam diri manusia, dan apa yang terjadi pada manusia akan berdampak pada keseimbangan alam. Pandangan ini melahirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa absolut atas dunia, melainkan bagian dari jaringan semesta yang saling terhubung. Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya ia sedang merusak dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika manusia menjaga harmoni dengan alam, ia sedang menjaga keberlangsungan eksistensinya.
Namun, kesadaran semacam ini perlahan memudar dalam peradaban modern. Revolusi ilmu pengetahuan Barat modern membawa perubahan besar dalam cara manusia memandang realitas. Alam tidak lagi dipahami sebagai entitas sakral yang mengandung makna spiritual, melainkan sekadar materi yang dapat diukur, dihitung, dan dimanfaatkan. Rasionalisme dan positivisme menjadikan realitas empiris sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang dianggap sah. Akibatnya, dimensi metafisis dan spiritual semakin tersingkir dari bangunan ilmu pengetahuan modern.
Alam direduksi menjadi objek eksploitasi ekonomi, sementara manusia diposisikan sebagai pusat mutlak yang bebas mengendalikan segalanya. Cara pandang inilah yang kemudian melahirkan berbagai krisis global, seperti kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya tanpa batas, perubahan iklim, hingga alienasi manusia modern dari dirinya sendiri.
Ironisnya, manusia modern berhasil menciptakan kemajuan material yang luar biasa, tetapi gagal menciptakan kedamaian eksistensial. Kota-kota berkembang pesat, tetapi manusia semakin merasa kosong. Teknologi semakin canggih, tetapi relasi manusia dengan alam semakin rusak. Ilmu berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan justru mengalami kemunduran.
Dalam konteks perencanaan ruang dan pembangunan, persoalan ini menjadi sangat relevan. Banyak perencanaan modern dibangun hanya berdasarkan pertimbangan teknis, ekonomi, dan efisiensi rasional semata. Ruang dipahami sebatas wilayah fisik yang dapat diatur sesuai kepentingan manusia. Padahal, ruang bukan hanya persoalan geografis, tetapi juga persoalan budaya, sejarah, moralitas, bahkan spiritualitas.
Prof. Tommy Eisenring pernah mengkritik bahwa pendidikan perencanaan modern terlalu dibentuk oleh paradigma rasional-fungsional warisan modernitas Barat. Akibatnya, dimensi manusiawi dan spiritual sering kali terabaikan dalam pengambilan keputusan pembangunan. Kota dibangun dengan logika efisiensi, tetapi kehilangan jiwa. Alam ditata demi produktivitas, tetapi mengabaikan keseimbangan ekologis.
Karena itu, memahami ruang secara utuh memerlukan pendekatan filosofis yang lebih mendalam. Ruang tidak dapat dipahami hanya melalui peta, angka statistik, atau kalkulasi ekonomi. Ruang harus dipahami sebagai bagian dari keteraturan kosmik yang melibatkan manusia, alam, dan nilai-nilai transenden.
Seyyed Hossein Nasr mengingatkan bahwa ilmuwan Muslim klasik mempelajari alam bukan semata-mata untuk menguasainya, tetapi untuk menemukan hikmah dan membaca tanda-tanda Tuhan di balik fenomena kosmik. Dalam tradisi Islam, ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari etika dan spiritualitas. Semakin seseorang mengenal alam, seharusnya semakin tumbuh pula kesadarannya akan kebesaran Tuhan serta tanggung jawab moralnya terhadap kehidupan.
Pada akhirnya, krisis terbesar manusia modern bukanlah kurangnya teknologi atau ilmu pengetahuan, melainkan hilangnya makna dalam memandang alam dan kehidupan. Manusia terlalu sibuk menaklukkan dunia, tetapi lupa memahami mengapa dunia ini ada. Ia berhasil membangun peradaban yang megah secara material, tetapi rapuh secara spiritual.
Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan rekonstruksi cara pandang. Manusia harus kembali memahami bahwa alam bukan sekadar benda mati yang bebas dieksploitasi, melainkan amanah kosmik yang mengandung nilai, tujuan, dan kesucian. Sebab, ketika manusia mampu melihat alam sebagai ayat-ayat Tuhan, hubungan antara manusia, ruang, dan semesta tidak lagi dibangun di atas eksploitasi, tetapi di atas kesadaran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Referensi
Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat.
Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin, dan Peradaban.
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Ismail Raji al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam.
Buku Tata Ruang dan Problem-Problem Planologis.










