Nusa Tenggara Barat – Liga 4 NTB tengah menjadi sorotan publik, bukan hanya karena persaingan di lapangan, tetapi juga karena trofi juara yang ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya Facebook. Perhatian warganet tertuju pada desain piala yang dinilai sederhana, sehingga memicu beragam komentar sejak unggahan tersebut beredar pada 13 Februari 2025.
Sebagian netizen mempertanyakan apakah bentuk trofi tersebut sudah mencerminkan nilai prestise sebuah kompetisi resmi. Bahkan ada yang membandingkannya dengan produk serupa yang dijual di marketplace dengan harga relatif terjangkau, sekitar Rp572.000 untuk tiga trofi. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang mengingatkan bahwa makna sebuah turnamen olahraga seharusnya tidak semata diukur dari bentuk piala, melainkan dari semangat sportivitas, proses pembinaan, serta kualitas pertandingan yang ditampilkan.
Sejumlah pengamat olahraga melihat perbincangan ini sebagai tanda meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap profesionalisme penyelenggaraan kompetisi, termasuk pada aspek-aspek detail seperti desain penghargaan. Di era digital, hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatian kini bisa dengan cepat menjadi bahan diskusi luas di ruang publik.
Situasi ini dinilai dapat menjadi momentum evaluasi bagi penyelenggara agar terus meningkatkan standar kompetisi, baik dari sisi teknis maupun penyajian acara. Dengan tata kelola yang semakin baik, ajang olahraga daerah diharapkan mampu memberikan pengalaman yang membanggakan bagi pemain, ofisial, dan masyarakat.
Di tengah polemik tersebut, Liga 4 NTB tetap memegang peran penting sebagai wadah pembinaan talenta muda. Kompetisi ini menjadi panggung awal bagi pemain untuk menunjukkan potensi sekaligus membuka peluang menuju level yang lebih tinggi.
PS Daigun sendiri berhasil keluar sebagai juara Liga 4 NTB. Kompetisi sepak bola tingkat daerah ini diharapkan terus berkontribusi dalam memperkuat ekosistem olahraga di Nusa Tenggara Barat dan melahirkan pemain-pemain yang mampu bersaing di tingkat nasional.














