Example floating
Example floating
Opini

Kaderisasi atau Sekadar Kedekatan? Potret Krisis Distribusi Kader di Ortom dan Muhammadiyah NTB

15
×

Kaderisasi atau Sekadar Kedekatan? Potret Krisis Distribusi Kader di Ortom dan Muhammadiyah NTB

Sebarkan artikel ini
Oleh: Taufik Hidayat, S.Sos

Kita sering membanggakan Ortom dan Muhammadiyah sebagai rumah kader tempat menempa intelektual, akhlak, dan pengabdian. Namun di balik kebanggaan itu, ada satu kenyataan pahit yang harus kita akui bersama, kita mencetak banyak kader, tetapi tidak semua kita rawat, tidak semua kita distribusikan dengan adil, dan tidak semua kita jaga masa depannya.

Distribusi Kader yang Tersandera Kedekatan Emosional

Di beberapa Ortom Muhammadiyah di NTB, distribusi kader masih berjalan berdasarkan siapa yang dekat dengan senior, bukan siapa yang paling layak atau paling siap. Amanah diberikan bukan karena kapasitas, tetapi karena kedekatan. Kader yang berproses panjang yang ikut beragam jenjang kaderisasi sering kali terpinggirkan hanya karena tidak memenuhi selera, keinginan, atau ego senior tertentu.

Lalu ketika mereka mundur, kita buru-buru menyampaikan stigma: “kader batu loncatan”, “tidak militan”, atau “kurang ideologis”. Padahal masalahnya bukan pada mereka, Masalahnya ada pada kultur kita yang belum selesai.

Kader Hilang Bukan Karena Tidak Cinta, tetapi Karena Tidak Dirawat

Banyak kader yang hilang di tengah perjalanan bukan karena lelah dengan perjuangan, tetapi karena merasa berjalan sendirian. Mereka telah membuktikan loyalitas dengan melanjutkan kaderisasi, menjadi penggerak acara, dan mengambil peran internal organisasi. Tapi setelah itu? Sering kali tidak ada yang menanyakan kabar, tidak ada ruang kontribusi yang jelas, dan tidak ada dukungan pada kebutuhan hidup mereka setelah wisuda.

Kebutuhan Realistis Kader Pekerjaan dan Pendidikan Lanjutan

Ortom Muhammadiyah sering bicara tentang pengabdian, tetapi jarang membicarakan keberlanjutan hidup kader, Padahal setelah masa kuliah, kader harus mencari pekerjaan. Ada yang butuh jaringan untuk melamar kerja, ada juga yang ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak tahu akses beasiswa atau rekomendasi akademik.

Ironisnya, ketika kader menyampaikan kebutuhan realistis seperti ini, mereka dianggap tidak militan.
Seolah-olah membicarakan masa depan adalah tanda kurang ideologi, Padahal justru organisasi besar adalah organisasi yang memperjuangkan masa depan kadernya dan Kader yang mapan secara ekonomi dan pendidikan adalah aset persyarikatan.

Pragmatisme yang Menyakitkan

Ada pula pragmatisme yang diam-diam terjadi:
kader yang tidak memenuhi nafsu, keinginan, atau ritme senior langsung dianggap bukan kader
yang kritis. dianggap ancaman dan tidak bisa diperalat dianggap pembangkang. Budaya seperti ini merusak regenerasi.

Ia membuat kader yang sungguh-sungguh justru tersingkir, sementara yang dekat secara emosional mendapat semua akses.

Saatnya Ortom Muhammadiyah Berbenah

Jika kita ingin Ortom Muhammadiyah di NTB tetap menjadi pelopor, maka kita harus memperbaiki kultur kaderisasi dan distribusi kader. Setidaknya dengan:

  1. Distribusi kader berbasis kompetensi dan proses kaderisasi, bukan kedekatan emosional.
  2. Mengakomodir kebutuhan realistis kader, pekerjaan, studi, dan masa depan tanpa menghakiminya sebagai kelemahan.
  3. Membangun ekosistem alumni yang aktif membantu adik-adik pasca kampus.
  4. Menghentikan budaya senioritas yang mendominasi dan meremehkan kader kritis.
  5. Menjadikan organisasi tempat tumbuh, bukan tempat tertekan.

Karena kader bukan sekadar penggerak agenda.
Mereka adalah manusia yang ingin dihargai prosesnya, diperhatikan masa depannya, dan diposisikan sesuai kapasitasnya.

Dan organisasi yang berhasil bukan organisasi yang ramai saat rekrutmen, tetapi organisasi yang mampu membuat kadernya tetap tinggal, karena merasa aman, dihargai, dan tidak ditelantarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *