Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar, mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam propaganda negatif, disinformasi, dan narasi pesimisme yang berkembang di ruang digital. Menurutnya, peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum untuk mengembalikan optimisme, memperkuat literasi informasi, serta membangun budaya demokrasi yang beretika dan bertanggung jawab.
La Ode Anhusadar mengatakan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan semata-mata persoalan ekonomi atau politik, melainkan semakin melemahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi secara kritis di tengah derasnya arus konten digital.
“Hari ini kita hidup dalam era ketika informasi dapat diproduksi dan disebarkan begitu cepat. Namun kecepatan tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyak narasi dibangun bukan untuk mencari fakta, melainkan untuk menggiring opini, membentuk persepsi, bahkan menumbuhkan ketidakpercayaan publik terhadap institusi dan sesama warga negara,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena tersebut dapat dilihat dari berbagai konten yang mengatasnamakan kritik sosial atau dokumenter, tetapi dalam praktiknya tidak memberikan ruang yang memadai bagi verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan informasi.
La Ode mencontohkan polemik yang muncul dalam film dokumenter Pesta Babi yang belakangan menuai kontroversi karena adanya keberatan dari sejumlah pihak yang merasa keterangannya tidak disajikan secara utuh atau bahkan mengaku dicatut tanpa proses klarifikasi yang memadai.
“Demokrasi memang memberikan ruang yang luas bagi kebebasan berekspresi. Namun kebebasan tidak berarti mengabaikan tanggung jawab. Kritik yang baik harus berdiri di atas fakta yang diverifikasi, memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menjelaskan, dan mengedepankan prinsip cek dan ricek. Jika sebuah narasi dibangun hanya dari satu sudut pandang tanpa keberimbangan yang memadai, maka publik berhak mempertanyakan objektivitasnya,” kata La Ode.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi akademik maupun jurnalistik, verifikasi merupakan prinsip dasar yang tidak dapat ditawar. Tanpa verifikasi, sebuah informasi berpotensi berubah menjadi disinformasi yang dapat menyesatkan masyarakat.
“Persoalannya bukan apakah seseorang setuju atau tidak terhadap kritik yang disampaikan. Persoalannya adalah apakah kritik tersebut disusun melalui proses yang jujur, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun intelektual. Demokrasi membutuhkan kebenaran yang diuji, bukan persepsi yang direkayasa,” tegasnya.
Lebih lanjut, La Ode menilai bahwa sebagian konten yang beredar saat ini cenderung membangun pesimisme kolektif dengan menggambarkan seolah-olah seluruh kebijakan negara selalu gagal, seluruh institusi selalu salah, dan seluruh proses pembangunan tidak pernah menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Padahal, menurutnya, cara pandang demikian justru bertentangan dengan semangat Pancasila yang menempatkan gotong royong, musyawarah, dan perbaikan bersama sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Jika setiap persoalan hanya dijadikan bahan untuk menyalahkan tanpa menawarkan solusi, maka yang lahir bukan kesadaran kritis, melainkan keputusasaan sosial. Bangsa yang terus-menerus dicekoki narasi bahwa semuanya buruk akan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Ini berbahaya bagi masa depan generasi muda,” ujarnya.
La Ode menambahkan bahwa demokrasi Pancasila tidak dibangun di atas kebencian, fitnah, ataupun upaya mempermalukan pihak lain. Demokrasi Pancasila menempatkan etika, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebebasan berpendapat.
“Kita tentu menghormati hak setiap orang untuk menyampaikan kritik. Namun kritik yang beradab berbeda dengan propaganda. Kritik bertujuan memperbaiki keadaan, sedangkan propaganda sering kali bertujuan membangun kemarahan, kebencian, atau prasangka tertentu. Demokrasi Pancasila mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan etika,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadi generasi optimis yang tidak mudah terseret oleh narasi negatif yang belum teruji kebenarannya. Menurutnya, optimisme bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan memiliki keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, data, dan kerja sama.
“Generasi muda harus menjadi generasi yang kritis sekaligus optimis. Kritis terhadap informasi yang diterima, tetapi optimis terhadap masa depan bangsanya. Jangan sampai kita menjadi korban propaganda yang memecah belah atau menumbuhkan rasa putus asa. Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan dapat dikelola, masalah dapat diselesaikan, dan masa depan dapat dibangun bersama,” pungkasnya.














